a. Pergaulan dan Berpacaran dalam Terang Firman Allah
Manusia sebagai makhluk sosial dan seksual menyatakan bahwa di dalam pergaulan, orang muda tidak dapat dilepaskan dari kehidupan seksual yang mengarah kepada pernikahan. Oleh karena itu, setiap orang muda perlu memahami dan mengetahui sejauh mana batas-batas dalam pergaulan atau berpacaran menurut firman Tuhan (Etika Kristen), serta bagaimanakah mencari dan menentukan jodoh yang sepadan atau sesuai dengan kehendak Allah.
Tahapan-tahapan dalam pergaulan:
Tahapan Pertama: Persahabatan Biasa
Ini adalah tahapan persahabatan antara teman sejenis maupun lawan jenis. Tahapan ini penting untuk mengenal sebanyak mungkin orang, khususnya yang berlainan jenis, sehingga remaja/pemuda dapat mengenal dan membedakan berbagai tipe karakter orang, kemudian memilih tipe yang cocok baginya. Dalam tahapan ini, belum ada pemikiran tentang hal seksual dan belum ada hubungan asmara.
Tahapan Kedua: Persahabatan Khusus (Naksir/Tertarik)
Hubungan ini sudah mulai melibatkan perhatian khusus yang didasari keinginan untuk mengenal seseorang (atau beberapa orang) secara lebih dalam karena merasa tertarik. Dalam tahapan ini, masing-masing berusaha dan ingin bertemu sesering mungkin dan sedekat mungkin, tetapi belum ada keterikatan resmi karena masing-masing masih ingin mengenal karakter lawan jenisnya. Hal ini perlu dilakukan agar kemudian hari mereka dapat memilih calon pacar/jodoh dengan lebih matang.
Dalam tahapan ini, pemuda/i perlu mewaspadai penyalahgunaan seks dan menghindari hal-hal yang menjadi pencobaan untuk jatuh ke dalam hubungan yang belum waktunya, yaitu semua tindakan yang didasari oleh cinta eros yang membangkitkan hormon-hormon seks. Waspadalah terhadap godaan ungkapan "I Love You" lalu dengan cepat membalas dengan ungkapan "Me Too" yang disertai tindakan-tindakan erotis. Diperlukan penguasaan diri dan sikap saling menghormati. Peranan wanita sangat menolong dalam situasi seperti ini; ada bahaya besar jika dua orang yang sedang bergelora emosinya menjadi begitu mesra, karena hal itu akan membuka peluang untuk jatuh ke dalam godaan melakukan hubungan yang belum patut dilakukan.
Tahapan Ketiga: Pacaran
Oleh karena adanya cinta dan dengan persetujuan bersama, mereka mengadakan hubungan yang khusus dan memutuskan hubungan dengan yang lain (jika sebelumnya ada). Dalam tahapan ini, masing-masing ingin mengetahui dan mengenal pasangannya lebih dalam, kemudian mulai memikirkan apakah ada kemungkinan bahwa pacarnya itu akan menjadi jodohnya kelak. Karena itu, muncul keinginan untuk selalu bertemu dan bersama, sehingga mereka dapat membina hubungan ke jenjang selanjutnya.
Namun, dalam tahapan ini masih ada kebebasan untuk memutuskan hubungan dengan alasan yang bertanggung jawab. Maka dari itu, perlu sungguh-sungguh diwaspadai bahaya melakukan hubungan seks sebelum nikah. Ingatlah bahwa "pacarmu" itu belum tentu menjadi milikmu (suami/istrimu) kelak, dan engkau pun belum tentu menjadi miliknya. Hubungan seks yang belum waktunya akan membawa masalah yang sangat besar, khususnya bagi perempuan. Belajarlah tentang cinta yang benar/sejati dan berpacaranlah dalam terang firman Allah, yaitu "berdua dan berdoa" (band. 1 Tes. 5:17). Jadikanlah firman Tuhan sebagai rambu-rambu dalam berpacaran. Hal ini menandaskan kepada kawula muda bagaimana caranya berpacaran sebagai orang muda yang percaya, yaitu melakukan segala sesuatu berdasarkan iman (band. Rom. 14:23). Berarti, dalam hal berpacaran pun terdapat dimensi ke atas (secara rohani). Inilah yang disebut berpacaran dalam terang Tuhan atau pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Itulah sebabnya anak muda dinasihatkan: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya" (2 Kor. 6:14).
Tahapan Keempat: Pertunangan
Yaitu perjanjian resmi yang diumumkan kepada keluarga dan orang lain yang menyatakan bahwa mereka akan menuju jenjang pernikahan. Biasanya pertunangan akan berakhir dalam pernikahan, tetapi masih ada kemungkinan mereka tidak jadi menikah. Maka dari itu, masa bertunangan adalah masa ujian terakhir dalam kesetiaan dan kesabaran untuk menunggu waktu yang tepat.
Melalui tahapan-tahapan yang dilalui dalam pergaulan/berpacaran ini, etika Kristen memberikan pemahaman kepada kita mengenai kapan waktu yang tepat untuk berpacaran. Meskipun tidak langsung merujuk pada batasan umur tertentu, namun dapat dikatakan bahwa masa pacaran baru boleh dilakukan jika sudah ada rencana dan kesiapan yang matang ke arah pernikahan.
b. Langkah Menentukan Jodoh/Teman Hidup yang Sepadan
Dalam hubungan mencari dan menentukan pasangan hidup, kita perlu memahami terlebih dahulu: Apakah pernikahan menurut firman Tuhan?
Pernikahan adalah suatu lembaga yang diciptakan oleh Allah dengan dasar "meninggalkan" orang tua oleh karena cinta, "berdampingan" sebagai pengesahan secara sosial dan ketetapan Allah, serta menjadi "satu daging" (one flesh) sebagai wujud dua pribadi menjadi satu (Kej. 2:24). Dalam pernikahan, mereka bukan lagi dua melainkan satu. Oleh karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh siapapun dan oleh apa pun, terkecuali oleh kematian (Mat. 19:5-6).
Karena Allah yang menjadikan pasangan yang sepadan bagi manusia, maka masalah mencari dan menentukan pasangan hidup juga mempunyai dimensi rohani, yaitu "melibatkan Allah dan memilih yang dikehendaki oleh Allah", karena perkara teman hidup ada di dalam tangan Tuhan.
Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencari dan menentukan pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan:
1. Faktor Cinta Kasih (Memiliki minimal 4 unsur):
Unsur daya tarik secara jasmani (unsur seksual): Namun, hubungan yang hanya didasarkan pada daya tarik jasmani akan mudah pudar seiring dengan kecantikan dan ketampanan yang berangsur-angsur sirna akibat pertambahan usia.
Unsur persahabatan: Mereka yang mau masuk ke dalam pernikahan didasari oleh rasa persahabatan yang sangat erat dan dalam (a deep friendship). Ada kerinduan untuk selalu dekat, ingin berbicara bersama, dan melakukan sesuatu bersama. Maka dari itu, sebaiknya calon pasangan suami-istri mempunyai minat atau visi yang sama.
Kasih yang tidak egois (Agape): Yaitu kasih yang mau berkorban, serta memperlakukan pacarnya dengan sopan dan hormat. Meminta pasangan mengorbankan kesuciannya (keperawanan/keperjakaan) sebagai "tanda cinta" bukanlah cinta yang benar, melainkan rayuan gombal belaka.
Unsur kesetiaan: Artinya adalah tetap mencintai dan semakin cinta, bukan hanya sekadar "jatuh cinta" sesaat. Kesetiaan harus sudah dimulai sejak masa berpacaran, sebab ketidaksetiaan di masa pacaran pasti akan menimbulkan kecurigaan yang merusak di kemudian hari.
2. Faktor Keyakinan (Iman): Pernikahan adalah suatu persekutuan secara total, baik jasmani maupun rohani. Pasangan yang tidak satu iman tidak akan dapat bersatu secara rohani, sehingga pengertian menjadi "satu daging" (one flesh) tidak dapat terwujud secara utuh (2 Kor. 6:14-15). Iman adalah sumber pandangan hidup yang menentukan sikap dan tingkah laku seseorang.
Pasangan yang tidak satu iman juga akan mengalami kesulitan besar dalam melaksanakan tugasnya sebagai orang tua Kristen terhadap anak-anak mereka (band. Ef. 6:4). Oleh karena itu, orang yang mencari pasangan hidup harus mencari kehendak Allah dan akhirnya meyakini bahwa si dialah pasangan hidup yang memang disediakan oleh Allah. Menikah dengan orang yang berbeda iman dengan alasan "untuk memenangkan jiwanya kelak" sangat tidak dapat diterima dan terlalu berisiko. Dalam kaitan satu iman, kehidupan kerohanian pribadi juga perlu dipertimbangkan; tidak boleh asal "sama-sama beragama Kristen", tetapi harus melihat buah roh dan kualitas imannya.
c. Kesimpulan
Seks adalah pemberian Allah yang sangat mulia, kudus, dan berharga, yang patut disyukuri dan dipergunakan sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakannya. Dalam setiap tahapan pergaulan—baik itu persahabatan, berpacaran, maupun bertunangan—waspadalah terhadap penyalahgunaan seks. Caranya adalah dengan menghindari hal-hal yang dapat membuka pintu kepada pencobaan, serta dengan konsisten mengikuti rambu-rambu serta batas-batas pergaulan menurut firman Tuhan.
Memilih teman hidup bukanlah hal yang mudah karena pernikahan Kristen adalah persekutuan sekali untuk seumur hidup. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan yang sangat matang dari berbagai faktor, dan yang paling utama adalah wajib melibatkan Allah di dalam seluruh prosesnya.
%20Menurut%20Etika%20Kristen.png)
Posting Komentar untuk "Memilih Jodoh (Teman Hidup) Menurut Etika Kristen "